LAPORAN HASIL PENELITIAN
KEBISINGAN DISEPANJANG KORIDOR
LANTAI 3 UMB KAMPUS II

KELOMPOK 3 :
Riki
Mandala Putra
KELAS
4 A3
PROGRAM
STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS
ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH BENGKULU
2012
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT karena berkat rahmat dan
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas penelitian tentang pengukuran kebisingan di sepanjang koridor
lantai 3. Pembuatan makalah ini dilakukan dalam rangka memenuhi tugas
Analisis Kualitas Lingkungan. Dalam penulisan makalah ini kami menyadari masih
banyak kekurangan, mengingat kemampuan, penguasaan materi dan pengetahuan
penulis miliki masih jauh dari sempurna
sehingga kritik dan saran sangat diperlukan dari berbagai pihak dalam rangka
perbaikan makalah ini.
Dengan rasa rendah hati, penulis tak lupa menyampaikan maaf atas
segala kesalahan, kekhilafan maupun kekurangan dalam pembuatan makalah ini.
Semoga ALLAH SWT memberi balasan yang berlipat ganda atas segala bantuan yang
telah diberikan dan selalu memberikan berkat dan rahmat-Nya kepada kita semua.
Amin.
Bengkulu, April 2013
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
1. Pengertian kebisingan
Kebisingan adalah bunyi yang tidak dikehendaki karena tidaksesuai konteks
ruang dan waktu sehingga dapat menimbulkangangguan terhadap kenyamanan dan
kesehatan manusia.
Suara
yang ditangkap oleh daun telinga mengalir melalui saluran telinga ke gendang
telinga. Gendang telinga adalah selaput tipis yang dilapisi oleh kulit, yang
memisahkan telinga tengah dengan telinga luar.Getaran suara yang dihantarkan
dari tulang pendengaran di telinga tengah ke jendela oval di telinga dalam
menyebabkan bergetarnya cairan dan sel rambut. Sel rambut yang berbeda
memberikan respon terhadap frekuensi suara yang berbeda dan merubahnya menjadi
gelombang saraf. tulang-tulang tersebut dan dihantarkan ke jendela oval.
Batas frekuensi bunyi
yang dapat didengar oleh telinga manusia kira-kira dari 20 Hz sampai 20.000 Hz
pada amplitudo umum dengan berbagai variasi dalam kurva responsnya.
Suara yang sangat keras menyebabkan kerusakan pada sel rambut, karena sel rambut yang rusak tidak dapat tumbuh lagi maka bisa terjadi kerusakan sel rambut progresif dan berkurangnya pendengaran
Suara yang sangat keras menyebabkan kerusakan pada sel rambut, karena sel rambut yang rusak tidak dapat tumbuh lagi maka bisa terjadi kerusakan sel rambut progresif dan berkurangnya pendengaran
2. Jenis-jenis kebisingan
Jenis
kebisingan yang ditemukan :
1. Bising kontinu (terus menerus)
seperti suara mesin, kipas angin, dll.
2. Bising intermitten (terputus putus) yang
terjadi tidak terus menerus seperti suara lalu lintas, suara pesawat terbang
3. Bising Impulsif yang memiliki perubahan
tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu yang cepat sehingga mengejutkan
pendengarnya seperti suara senapan, mercon, dll
4. Bising impulsif berulang yang terjadi secara
berulang-ulang pada periode yang sama seperti suara mesin tempa.
Batasan tingkat
kebisingan yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran
Batasan tingkat kebisingan dibagi menjadi 2, yaitu untuk lingkungan dengan waktu pajanan 24 jam yang kita kenal dengan Baku Mutu Lingkungan dan untuk tempat kerja dengan waktu pajanan 8 jam kerja atau Nilai Ambang Batas (NAB).
Batasan tingkat kebisingan dibagi menjadi 2, yaitu untuk lingkungan dengan waktu pajanan 24 jam yang kita kenal dengan Baku Mutu Lingkungan dan untuk tempat kerja dengan waktu pajanan 8 jam kerja atau Nilai Ambang Batas (NAB).

Gangguan Pendengaran Akibat
Bising/GPAB (Noise Induced hearing Loss/NIHL)
Gangguan pendengaran akibat bising (GPAB) adalah penurunan pendengaran sensorineural yang pada awalnya tidak disadari, karena belum mengganggu percakapan sehari-hari. Penurunan pendengaran sensorineural tipe koklea pada kedua telinga. Faktor lama pajanan, intensitas kebisingan, umur serta faktor lain akan berpengaruh terhadap penurunan pendengaran tersebut. Faktor yang mempercepat GPAB/NIHL adalah pajanan intensitas kebisingan melebihi NAB (>85 dbA selama 8 jam).
Gangguan pendengaran akibat bising (GPAB) adalah penurunan pendengaran sensorineural yang pada awalnya tidak disadari, karena belum mengganggu percakapan sehari-hari. Penurunan pendengaran sensorineural tipe koklea pada kedua telinga. Faktor lama pajanan, intensitas kebisingan, umur serta faktor lain akan berpengaruh terhadap penurunan pendengaran tersebut. Faktor yang mempercepat GPAB/NIHL adalah pajanan intensitas kebisingan melebihi NAB (>85 dbA selama 8 jam).
BAB II
CARA KERJA
1. Alat dan Bahan
Alat dan bahan
yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah :
1. Sound level
meter
2. Thermohigro
meter
3. Stopwatch
4. Buku dan alat
tulis
2. Waktu dan Lokasi
Hari/Tanggal
: Rabu, 24 april 2013
Waktu : 10.30 – 11.00 WIB
Lokasi : koridor lantai 3 UMB 2
Waktu : 10.30 – 11.00 WIB
Lokasi : koridor lantai 3 UMB 2
3. Cara Kerja
Cara
kerja dari penelitian ini bersifat eksprimental atau evaluasi langsung
kelapangan dan dilakukan secara kelompok. Adapun cara-cara kerja kelompok ini
antara lain sebagai berikut:
-
melihat kondisi tempat yang akan
dilakukan penelitian
-
menyediakan alat-alat yang di butuhkan
-
Setelah disiapkan alat-alat yang ada di
atas maka metode selanjutnya antara lain:
1. Letakkan
alat pengukur suhu di ketinggian 1 atau 2 meter di tempat yang akan diukur
kebisingannya dan tempelkan pada paku atau dinding.
2. Hidupkan
alat Sound level
meter dan stopwatch secara bersamaan
3. Tunggu selama
kurang lebih 5 menit
4. Tekan tombol hold
pada alat sound level meter
5. Lihat berapa
tingkat kebisingan yang di dapat antara maximum dan minimum
-
Jika sudah selesai lihat pengukuran suhu
yang di tempelkan pada dinding atau paku yang di letakkan sebelum melakukan
pengukuran kebisingan dan terakhir masukkan angka pengukur kebisingan dan
lakukan penghitungan menggunakan rumus yang disediakan.
4.
Hasil
Pengamatan
Berdasarkan
pengamatan yang telah dilakukan maka didapatkan hasil mengenai pengkuran
kebisingan adalah :
1. Titik
Pertama : -maximal = 89,0
-minimal = 61,8
2.
Titik Kedua : -maximal = 75,3
-minimal = 72,3
3. Titik
ketiga : -maximal = 73,2
-minimal = 73,2
4. Titik
keempat : -maximal = 96,6
-minimal = 60,6
5. Titik
kelima : -maximal = 79,5
-minimal = 79,5
Maka
: 1. 89,0 + 61,8 = 75,4
2
2.
75,3 + 72,3 = 75,3
2
3. 73,2
+ 73,3 =
73,3
2
4. 96,9
+ 60,6 =
78,75
2
5. 79,5
+ 79,5 =
77,5
2
Dari
hasil diatas didapat :
Jumlah
pengukuran : 5
→
454,05 = 90,81 db (A)
5
BAB III
KESIMPULAN dan SARAN
1. Kesimpulan
Kebisingan
yang ideal untuk area pendidikan adalah sebesar 55 db (A). sedangkan pada
penelitian yang kami lakukan diperoleh kesimpulan bahwa nilai kebisingan pada
koridor ini malebihi ambang batas yaitu 90,81
db (A) dengan kelembaban 62 %
pada suhu 30,3 c (24 april 2013, 10.30)
2. Saran
Kebisingan
yang melampaui batas dapat menyebabkan beberapa dampak negative, terutama dibidang pendidikan, yaitu
terganggunya sistem pembelajaran. Oleh karena itu diperlukan beberapa perbaikan
disepanjang koridor. Salah satunya yaitu dengan meletakkan peredam bunyiyang
dapat menurunkan intensitas kebisingan sehingga kegiatan belajar mengajar dapat
berjalan dengan baik tanpa ada gangguan baik dari dalam ruangan ataupun dari
luar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar